Bakal capres dari Partai Hanura Wiranto berharap kompetisi antar kandidat di pilpres 2009 lebih didasarkan pada persaingan kualitas dan bukan sekedar mengejar nafsu kekuasaan belaka. "Jadi pencalonan itu seharusnya bukan berangkat dari hanya ingin menjadi sesuatu atau nafsu-nafsu mendapatkan kekuasaan saja," kata Wiranto ditemui di kediamannya di Gorontalo, Rabu (21/1).
Wiranto mengatakan pada kondisi bangsa seperti sekarang ini, maka para tokoh yang maju sebagai capres itu seyogianya berorientasi pada kewajiban menjadi solusi berbagai persoalan rumit bangsa. Jika komitmen pencalonan itu adalah untuk mengambil bagian sebagai solusi persoalan bangsa ini, maka arah kompetisi adalah kualitas.
Dalam kompetisi pilpres yang mengedepankan persaingan kualitas, Wiranto menambahkan, maka yang mencuat kepermukaan adalah bagaimana rekam jejak kandidat, pengalaman pada level nasional atau pengalaman menghadapi berbagai persoalan pelik bangsa. "Dari sanalah maka tokoh itu akan memiliki modal yang dapat ditawarkan kepada masyarakat," ujar Wiranto.
Namun jika modal para kandidat capres hanya ingin berkuasa atau mendapatkan kesempatan, maka kualitas tidak akan pernah dipedulikan. "Itu hanya sekedar pragmatis mengejar kekuasaan saja. Karenanya jika mereka terpilih, maka modal menjadi solusi persoalan bangsa tidak cukup kuat," katanya lagi. Lebih lanjut Wiranto mengimbau bangsa Indonesia untuk berpikir jernih dengan hati nuraninya bahwa kebutuhan bangsa sekarang ini adalah mendapatkan pemimpin yang tepat dalam kondisi sekarang ini.
Soal pemimpin yang tepat itu, menurut dia, kriterianya cukup banyak seperti paham berbagai masalah internasional sekaligus solusinya atau sudah diakui pengalamannya sebagai eksekutor yang baik dan berani. "Hal-hal seperti inilah yang seyogianya dijadikan acuan dalam pemilihan pemimpin nasional. Bukan yang mencuat itu banyaknya gambar atau iklan diri kandidat atau banyak uangnya," ujarnya. Mengenai saling penjajakan diantara kandidat capres yang mulai marak saat ini, Wiranto mengatakan, sah-sah saja itu semua dilakukan dan tentunya pula setiap capres berupaya menampilkan keberhasilan didukung massa atau elemen masyarakat. Dia memperkirakan fenomena dukung mendukung akan terus terjadi sampai pemilu yang akan datang karena hal tersebut juga bagian dari strategi politik.
Selain itu, seseorang mengajukan diri dalam kompetisi mendapatkan jabatan tertentu pasti ada alasannya dan semuanya berhubungan dengan latar belakang politik atau posisi dimana si calon itu mencalonkan diri. Namun demikian, Wiranto enggan lebih jauh mengomentari berbagai manuver sejumlah kandidat capres itu. "Saya tentu tidak berhak atau tidak etis menilai kandidat yang lain. Itu bukan watak saya. Tapi saya hanya mencoba melakukan pendalaman saja," imbuhnya
Sumber : Hanura.com & inilah.com
Wiranto mengatakan pada kondisi bangsa seperti sekarang ini, maka para tokoh yang maju sebagai capres itu seyogianya berorientasi pada kewajiban menjadi solusi berbagai persoalan rumit bangsa. Jika komitmen pencalonan itu adalah untuk mengambil bagian sebagai solusi persoalan bangsa ini, maka arah kompetisi adalah kualitas.
Dalam kompetisi pilpres yang mengedepankan persaingan kualitas, Wiranto menambahkan, maka yang mencuat kepermukaan adalah bagaimana rekam jejak kandidat, pengalaman pada level nasional atau pengalaman menghadapi berbagai persoalan pelik bangsa. "Dari sanalah maka tokoh itu akan memiliki modal yang dapat ditawarkan kepada masyarakat," ujar Wiranto.
Namun jika modal para kandidat capres hanya ingin berkuasa atau mendapatkan kesempatan, maka kualitas tidak akan pernah dipedulikan. "Itu hanya sekedar pragmatis mengejar kekuasaan saja. Karenanya jika mereka terpilih, maka modal menjadi solusi persoalan bangsa tidak cukup kuat," katanya lagi. Lebih lanjut Wiranto mengimbau bangsa Indonesia untuk berpikir jernih dengan hati nuraninya bahwa kebutuhan bangsa sekarang ini adalah mendapatkan pemimpin yang tepat dalam kondisi sekarang ini.
Soal pemimpin yang tepat itu, menurut dia, kriterianya cukup banyak seperti paham berbagai masalah internasional sekaligus solusinya atau sudah diakui pengalamannya sebagai eksekutor yang baik dan berani. "Hal-hal seperti inilah yang seyogianya dijadikan acuan dalam pemilihan pemimpin nasional. Bukan yang mencuat itu banyaknya gambar atau iklan diri kandidat atau banyak uangnya," ujarnya. Mengenai saling penjajakan diantara kandidat capres yang mulai marak saat ini, Wiranto mengatakan, sah-sah saja itu semua dilakukan dan tentunya pula setiap capres berupaya menampilkan keberhasilan didukung massa atau elemen masyarakat. Dia memperkirakan fenomena dukung mendukung akan terus terjadi sampai pemilu yang akan datang karena hal tersebut juga bagian dari strategi politik.
Selain itu, seseorang mengajukan diri dalam kompetisi mendapatkan jabatan tertentu pasti ada alasannya dan semuanya berhubungan dengan latar belakang politik atau posisi dimana si calon itu mencalonkan diri. Namun demikian, Wiranto enggan lebih jauh mengomentari berbagai manuver sejumlah kandidat capres itu. "Saya tentu tidak berhak atau tidak etis menilai kandidat yang lain. Itu bukan watak saya. Tapi saya hanya mencoba melakukan pendalaman saja," imbuhnya
Sumber : Hanura.com & inilah.com


